BMKG Kerahkan Operasi Modifikasi Cuaca Dry Ice untuk Urai Kabut Asap di Sumatra dan Kalimantan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengambil langkah taktis darurat dalam menghadapi pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Sumatra dan Kalimantan. Melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pemerintah secara resmi mengerahkan penyemaian dry ice (es kering) guna mengurai partikel polutan berbahaya yang terjebak di lapisan atmosfer bawah. Langkah cepat ini diambil guna menekan dampak buruk polusi udara terhadap kesehatan masyarakat serta mengembalikan normalitas aktivitas transportasi darat, laut, dan udara di wilayah-wilayah terdampak.
Berbeda dari metode modifikasi cuaca konvensional yang umumnya berfokus pada penyemaian bahan natrium klorida (NaCl) untuk merangsang pertumbuhan awan hujan, pemanfaatan dry ice memiliki pendekatan ilmiah dan target atmosfer yang jauh berbeda. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa penyemaian dry ice dirancang secara spesifik untuk menangani situasi ketika pergerakan partikel asap terhambat oleh kondisi meteorologis tertentu, seperti fenomena lapisan inversi dan lapisan isoterm di atmosfer. Dalam kondisi ekstrem tersebut, asap karhutla menumpuk dan terperangkap di dekat permukaan tanah hingga ketinggian 6.000 hingga 7.000 kaki, atau bahkan lebih tinggi, sehingga menciptakan kabut asap tebal yang membatasi jarak pandang secara drastis.
Melalui intervensi udara menggunakan armada pesawat khusus, termasuk dukungan pesawat Hercules dari TNI atas instruksi pemerintah, butiran dry ice disebarkan secara presisi di atas lapisan inversi. Ketika karbondioksida padat ini mengalami proses sublimasi di udara, ia memicu pendinginan dan penurunan suhu secara mendadak. Perubahan suhu yang drastis ini membantu merusak kestabilan lapisan inversi yang mengekang polutan, membuka kembali aliran konveksi vertikal di atmosfer, dan mendispersikan konsentrasi asap tebal agar jarak pandang berangsur pulih.
Menyoroti pentingnya kecepatan eksekusi dan tantangan kondisi iklim di lapangan, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa pemilihan teknologi es kering ini merupakan langkah taktis terbaik sembari menanti datangnya masa peralihan musim.
“Jadi dry ice ini kita coba untuk segera dengan berbagai cara, kebakaran hutan ini dapat kita tangani dengan mendatangkan hujan, tapi kalau hujan alaminya sendiri kurang lebih di awal November nanti,” ujar Faisal.
Penerapan teknologi mutakhir ini tentu tidak dapat berjalan secara parsial. Operasi Modifikasi Cuaca berbasis dry ice dijalankan melalui skema sinergi lintas lembaga yang sangat padat dan terintegrasi. Sejumlah instansi strategis turut ambil bagian, mulai dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mengoordinasikan penanggulangan darurat bencana, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mengawal analisis riset atmosfer, Kementerian Kehutanan dan Kementerian Pertahanan, hingga Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang menyediakan armada penerbangan. Kolaborasi ini memastikan bahwa intervensi cuaca di udara berjalan beriringan dengan operasi pemadaman di darat, patroli wilayah rawan, serta penegakan hukum yang ketat terhadap pelaku pembakaran.
Evaluasi berkala yang dilakukan selama pelaksanaan operasi menunjukkan adanya indikasi perbaikan kualitas lingkungan yang positif di sejumlah titik prioritas. Di wilayah Palembang dan beberapa titik di Sumatra serta Kalimantan, intervensi dry ice terbukti mampu menaikkan jarak pandang horizontal secara bertahap serta mengurangi konsentrasi polutan. Kendati demikian, pemerintah dan BMKG tetap mengingatkan bahwa OMC bukanlah satu-satunya instrumen penyelesaian tunggal. Penanggulangan karhutla yang berkelanjutan menuntut kesadaran kolektif, pencegahan dini berbasis komunitas, serta pengawasan ketat terhadap korporasi. Dengan memadukan aksi modifikasi cuaca modern dan penegakan regulasi di darat, stabilitas ekologis serta kesehatan masyarakat di Sumatra dan Kalimantan diharapkan dapat segera pulih sepenuhnya.
