BRIN Kembangkan Kemenyan Jadi Bahan Parfum dan Aromaterapi, Buka Peluang bagi UMKM
kalbartimes.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan kemenyan sebagai bahan baku parfum dan aromaterapi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya hayati Indonesia sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan Formulasi Parfum Aromaterapi Berbasis Kemenyan yang diselenggarakan Pusat Riset Botani Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL), bersama Direktorat Pengembangan Kompetensi, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SDMI) BRIN.
Pelatihan berlangsung secara hibrida di Gedung ICC, Kawasan Sains dan Teknologi Ir. Soekarno, Cibinong, pada 6 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kemampuan formulasi sekaligus mendorong pemanfaatan hasil penelitian menjadi produk yang berpotensi dikembangkan masyarakat dan industri.
Kepala Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Muhammad Imam Surya, mengatakan Indonesia memiliki beragam tanaman aromatik dengan karakteristik khas di setiap wilayah. Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui penguasaan teknologi dan formulasi agar bahan baku lokal menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
“Potensi ini perlu kita manfaatkan dan kembangkan melalui penguasaan teknologi dan formulasi,” ujar Imam, Senin (12/10).
Menurut Imam, peningkatan kompetensi menjadi bagian penting dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya hayati. Melalui pelatihan tersebut, peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mengembangkan bahan baku tanaman lokal menjadi produk kosmetik, termasuk parfum.
Ia juga menekankan pentingnya transfer pengetahuan dari lembaga riset kepada masyarakat dan pemangku kepentingan. Dengan demikian, hasil penelitian tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi inovasi yang bermanfaat.
Formulasi Kemenyan Berpotensi Dikembangkan Menjadi Produk Usaha
Pengembangan parfum aromaterapi berbasis kemenyan tidak hanya berfokus pada pengolahan bahan alam, tetapi juga berpotensi menciptakan peluang usaha melalui produk bernilai tambah.
Untuk merealisasikan potensi tersebut, keterampilan formulasi perlu diikuti pendampingan, pengembangan produk, dan penyusunan skema bisnis yang sesuai.
Ketua Tim Layanan Pengembangan Kompetensi SDM Nasional/Iptek, Direktorat Pengembangan Kompetensi BRIN, Alpha Fadila Juliana Rahman, mengatakan pelatihan tersebut diharapkan menjadi langkah awal menuju hilirisasi hasil riset.
"Formulasi parfum aromaterapi berbasis kemenyan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk UMKM dan industri,” kata Alpha.
Ia menambahkan, pendampingan dan penguatan skema bisnis dapat menjadi bagian dari tindak lanjut pelatihan agar keterampilan yang diperoleh peserta berpeluang diterapkan dalam pengembangan produk secara berkelanjutan.
BRIN Dorong Hasil Riset Menjadi Produk Inovasi
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Aswandi, mengatakan pelatihan tersebut diharapkan memberikan kompetensi dasar bagi para periset untuk mengembangkan hasil penelitian menjadi produk inovasi bernilai tambah.
Pemahaman mengenai karakteristik kemenyan serta prinsip formulasi parfum dan produk aromaterapi diharapkan membantu periset mengeksplorasi potensi bahan lokal dan memperluas pemanfaatan hasil penelitian melalui teknologi tepat guna.
“Riset tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga perlu didiseminasikan menjadi teknologi tepat guna agar manfaat dan pentingnya riset dapat lebih cepat dirasakan masyarakat,” ujar Aswandi.
Pelatihan ini diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari peneliti, teknisi dan laboran, akademisi, mahasiswa, pelaku usaha atau UMKM, penyuluh, praktisi, hingga masyarakat yang tertarik pada pemanfaatan kemenyan.
Keberagaman peserta tersebut diharapkan mendorong pertukaran pengetahuan dan kolaborasi lintas bidang. Bekal mengenai karakteristik kemenyan dan prinsip formulasi parfum aromaterapi juga menjadi langkah awal untuk mengembangkan produk sesuai kebutuhan dan peluang pasar.
Melalui kegiatan ini, BRIN mendorong pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia agar tidak hanya menjadi bahan baku, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk inovatif melalui penguatan kompetensi, transfer teknologi, dan hilirisasi hasil riset.
