Sabtu, 24 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Ekspor Terminal Kijing Tembus 792 Ribu Ton hingga Triwulan III 2026

✍️ Eka Wulandari 🕒 22 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Jajaran manajemen PT Pelindo Regional 2 Pontianak berbincang usai wawancara bersama media di Kalimantan Barat, di Pelabuhan Kijing, Mempawah.
Jajaran manajemen PT Pelindo Regional 2 Pontianak berbincang usai wawancara bersama media di Kalimantan Barat, di Pelabuhan Kijing, Mempawah. Foto: istimewa

kalbartimes.com – Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, mencatat volume ekspor sebanyak 792.507 ton dan impor 328.806 ton selama Januari hingga September 2026. Aktivitas perdagangan tersebut memperkuat peran terminal sebagai salah satu jalur logistik penting bagi industri dan komoditas unggulan Kalimantan Barat.

General Manager PT Pelindo Regional 2 Pontianak, Dewa Cipta Hadi, mengatakan Terminal Kijing terus mengembangkan layanan kepelabuhanan untuk mendukung arus barang dan perdagangan internasional.

“Terminal Kijing terus memperkuat perannya sebagai salah satu simpul logistik dan perdagangan di Kalimantan Barat, terutama dalam mendukung aktivitas ekspor komoditas unggulan serta kebutuhan industri melalui layanan kepelabuhanan,” kata Dewa dalam kegiatan media gathering di Pelabuhan Kijing, Mempawah, Rabu (21/10/2026).

Berdasarkan data operasional hingga triwulan III 2026, ekspor melalui Terminal Kijing didominasi minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) beserta produk turunannya, serta alumina.

China menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan volume 206.747 ton. Berikutnya, Singapura mencatat 102.928 ton dan Malaysia sebanyak 98.904 ton. Pengiriman komoditas dari terminal tersebut juga menjangkau India, Arab Saudi, Mesir, dan sejumlah negara lainnya.

Impor Bahan Industri Capai 328 Ribu Ton

Di sisi impor, Terminal Kijing menangani 328.806 ton barang selama periode Januari–September 2026. Komoditas yang masuk meliputi soda kaustik (caustic soda), metanol, dan pupuk untuk memenuhi kebutuhan industri di Kalimantan Barat dan wilayah sekitarnya.

China juga menjadi negara asal impor terbesar dengan volume 109.771 ton. Malaysia berada di urutan berikutnya dengan 64.289 ton, disusul Rusia sebanyak 39.618 ton.

Menurut Dewa, peningkatan layanan pelabuhan diperlukan untuk menjaga kelancaran distribusi barang, memperkuat konektivitas perdagangan, serta mendukung rantai pasok di tingkat regional maupun internasional.

Ketersediaan fasilitas bongkar muat menjadi bagian dari dukungan operasional Terminal Kijing. Fasilitas tersebut mencakup quay container crane, rubber tyred gantry, reach stacker, dan harbour mobile crane.

Terminal Kijing Kembangkan Layanan Peti Kemas

Selain menangani komoditas curah dan kebutuhan industri, Terminal Kijing mulai mengembangkan layanan peti kemas pada 2026. Pelayanan perdana peti kemas berlangsung pada 10 Juni 2026, sedangkan ekspor perdana peti kemas tercatat pada 29 Juni 2026.

Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperluas jenis layanan pelabuhan dan meningkatkan efisiensi logistik bagi pelaku usaha.

Terminal Kijing merupakan terminal umum yang menjadi bagian dari pelabuhan utama dan mulai beroperasi pada 9 Agustus 2022. Infrastruktur ini juga ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional melalui Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016.

Dengan pengembangan fasilitas dan layanan, Terminal Kijing diharapkan semakin mendukung distribusi komoditas Kalimantan Barat serta memperkuat daya saing produk daerah di pasar domestik dan internasional.

EW
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update