Sabtu, 24 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Hilirisasi Bauksit Kalbar Berpotensi Hemat Devisa Indonesia hingga Rp9 Triliun per Tahun

✍️ Eka Wulandari 🕒 14 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID menegaskan komitmennya dalam mendukung transisi energi nasional melalui penguatan hilirisasi bauksit secara terintegrasi di dalam negeri
Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID menegaskan komitmennya dalam mendukung transisi energi nasional melalui penguatan hilirisasi bauksit secara terintegrasi di dalam negeri Foto: istimewa

kalbartimes.com – Pengembangan hilirisasi bauksit di Mempawah, Kalimantan Barat, berpotensi menghemat devisa Indonesia hingga Rp9 triliun per tahun. Penghematan tersebut berasal dari berkurangnya ketergantungan industri aluminium nasional terhadap impor bahan baku alumina.

Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), Arif Haendra, mengatakan perusahaan kini tidak lagi mengimpor alumina karena kebutuhan bahan bakunya dapat dipenuhi melalui produksi dalam negeri.

“Sekarang dengan memiliki sendiri alumina maka kita tidak perlu impor. Itu sudah menghemat devisa kurang lebih Rp7 triliun sampai Rp9 triliun gitu ya. Dengan Inalum sudah tidak mengimpor alumina,” kata Arif dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu.

Inalum merupakan bagian dari holding pertambangan MIND ID. Sebelumnya, perusahaan masih mengandalkan pasokan impor untuk memenuhi kebutuhan alumina yang digunakan dalam produksi aluminium.

Perubahan tersebut didukung pengembangan rantai industri terintegrasi, mulai dari penambangan bauksit, pemurnian menjadi alumina, hingga pengolahan menjadi aluminium. Integrasi ini memungkinkan sumber daya mineral Indonesia memiliki nilai tambah lebih besar sebelum dipasarkan.

Mempawah Perkuat Rantai Industri Aluminium

Inalum bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terus mengembangkan ekosistem hilirisasi bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat.

Kawasan tersebut mencakup enam proyek, terdiri atas lima proyek di lingkungan Grup MIND ID dan satu proyek milik Pelindo. Pengembangan ini diarahkan untuk memperkuat pasokan bahan baku sekaligus membangun keterhubungan industri dari sektor hulu hingga hilir.

Pada sektor hulu, pasokan bijih bauksit didukung satu izin usaha pertambangan (IUP) milik Antam dan enam IUP milik anak perusahaan Antam. Bijih tersebut selanjutnya menjadi bahan baku fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR).

SGAR fase I saat ini telah berproduksi dengan kapasitas mencapai 1 juta ton alumina per tahun. Dari kapasitas tersebut, sekitar 550 ribu ton dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan Inalum berdasarkan perjanjian jangka panjang, sedangkan sekitar 450 ribu ton lainnya ditujukan untuk ekspor.

Pembagian produksi itu menunjukkan bahwa fasilitas pengolahan di Mempawah tidak hanya menopang kebutuhan industri dalam negeri, tetapi juga menyediakan peluang pasokan untuk pasar internasional.

SGAR Fase II Bersiap Memasuki Tahap Investasi

Pengembangan hilirisasi bauksit di Mempawah akan dilanjutkan melalui pembangunan SGAR fase II. Menurut Arif, studi kelayakan yang memenuhi persyaratan perbankan atau bankable feasibility study (BFS) untuk proyek tersebut telah selesai.

Proyek itu selanjutnya akan memasuki tahap keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) dalam waktu dekat.

Pembangunan fasilitas lanjutan diharapkan memperkuat kapasitas pengolahan alumina di dalam negeri serta menjaga ketersediaan bahan baku bagi industri aluminium nasional.

Dorong Daya Saing Industri Nasional

Ketersediaan alumina dari produksi domestik menjadi bagian penting dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor. Selain berpotensi menghemat devisa, hilirisasi juga mendorong pemanfaatan sumber daya mineral dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Aluminium yang dihasilkan dapat digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari manufaktur kendaraan listrik, konstruksi, transportasi, hingga kelistrikan.

Dengan pengembangan rantai industri yang terintegrasi, Mempawah berpotensi menjadi salah satu kawasan penting dalam penguatan industri aluminium nasional. Keberlanjutan proyek tersebut juga diharapkan mendukung daya saing industri pengolahan Indonesia di pasar global.

EW
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update