Kabut Asap Hantam Penerbangan Kalteng, Lonjakan Penumpang Kapal Laut di Pelabuhan Kumai Tembus 30 Persen
KOTAWARINGIN BARAT — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kepulan kabut asap pekat di wilayah Kalimantan Tengah terus berdampak luas terhadap ekosistem transportasi publik. Mengingat mobilitas jalur udara mengalami gangguan parah hingga berujung pada pembatalan sejumlah penerbangan komersial di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, masyarakat berbondong-bondong mengalihkan moda jalurnya ke jalur laut. Fenomena ini secara mendadak mendongkrak angka pergerakan penumpang kapal laut di Pelabuhan Panglima Utar Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), secara signifikan selama tiga pekan pertama bulan Oktober.
Perubahan pola perjalanan masyarakat dari udara ke laut tersebut dipicu oleh ketidakpastian jadwal penerbangan akibat tebalnya kabut asap yang memangkas jarak pandang penerbangan. Kondisi memprihatinkan di udara memaksa banyak calon penumpang pesawat mencari alternatif jalur transisi yang dinilai jauh lebih aman dan pasti ketepatan keberangkatannya, yakni moda transportasi kapal.
Kenaikan Penumpang Hingga 30 Persen
Penyedia jasa pelayaran swasta, PT Dharma Lautan Utama (DLU), mencatatkan kenaikan volume penumpang yang cukup mencolok selama periode terjadinya gangguan udara. Manajer PT DLU Cabang Kumai, Agus, memaparkan data terkini bahwa kenaikan lalu lintas penumpang telah berlangsung sepanjang tiga pekan terakhir sejak memasuki bulan Oktober.
Agus mengungkapkan rincian lonjakan armada dan penumpang yang ditangani oleh pihaknya.
"Selama 1-21 Oktober 2026, ada kenaikan penumpang sekitar 30 persen dari kondisi normal. Rata-rata sekitar 300 penumpang per trip, dengan total 27 trip," kata Agus di Kumai, Rabu (21/10/2026).
Ia juga menjelaskan lebih rinci perkiraan jumlah keseluruhan warga yang diangkut menggunakan kapal armada milik DLU selama rentang waktu darurat asap tersebut.
"Dengan total perkiraan 8.100 penumpang dalam 27 perjalanan, DLU mencatat kenaikan sekitar 30 persen pada tiga pekan pertama Oktober," katanya.
Peningkatan ini memvalidasi bahwa keberadaan kapal laut bertindak sebagai moda penyelamat utama (backbone) saat sektor transportasi udara di kawasan Kalimantan Tengah lumpuh total.
Alih Moda Penumpang dan Kelompok Jamaah Umrah
Dampak penghentian operasional penerbangan akibat terhalang asap tidak hanya melanda para penumpang dengan keperluan bisnis atau perjalanan pribadi harian, tetapi juga menimpa rombongan besar. Salah satu contoh konkret ketidakpastian transportasi udara ini tefokus pada penundaan jadwal puluhan calon jamaah ibadah ke Tanah Suci.
Sebanyak 45 orang calon jemaah umrah asal Kabupaten Kotawaringin Barat terpaksa membatalkan tiket pesawat udara mereka akibat jadwal penerbangan dari Pangkalan Bun yang tak kunjung beroperasi normal. Guna mengejar jadwal sambungan penerbangan internasional di pulau Jawa, seluruh jemaah tersebut mengalihkan seluruh rencana perjalanan perjalanan darat-laut mereka dengan memesan tiket kapal penyeberangan dari Pelabuhan Panglima Utar Kumai menuju pelabuhan tujuan di Jawa.
Langkah beralih ke kapal laut menjadi solusi darurat yang terpaksa diambil demi menghindari risiko keterlambatan penerbangan internasional utama yang sudah terencana dari Jakarta atau Surabaya.
Ketimpangan Udara dan Keandalan Moda Laut
Lumpuhnya aktivitas bandara di Kalimantan Tengah bermula ketika ketebalan kabut asap karhutla kian memburuk. Maskapai penerbangan seperti NAM Air hingga Batik Air terpaksa membatalkan serta memangkas jadwal penerbangan demi keselamatan operasional penerbangan. Jarak pandang mendatar (visibility) di sekitar kawasan bandara berkali-kali berada jauh di bawah ambang batas keselamatan minimal penerbangan, sehingga sangat berisiko bagi proses lepas landas (take-off) maupun pendaratan (landing).
Di sisi lain, moda transportasi laut terbukti tidak terlalu terdampak parah oleh kabut asap darat. Sistem navigasi kapal laut yang mengandalkan radar maritim modern memungkinkan armada pelayaran tetap beroperasi secara terjadwal meskipun jarak pandang terbatas. Keandalan ini yang menjadikan Pelabuhan Kumai sebagai tumpuan utama pintu keluar-masuk wilayah Kotawaringin Barat dan sekitarnya saat ini.
Kesiapan Operator Pelayaran Menghadapi Kenaikan Tren
Lonjakan jumlah penumpang kapal laut menuntut para operator penyeberangan dan pihak otoritas pelabuhan untuk mengoptimalkan pelayanan di lapangan. Pengawasan ketat terhadap operasional, ketertiban ruang tunggu pelabuhan, serta kesiapan armada keselamatan penumpang terus disiagakan. Pihak operator laut memastikan keberangkatan kapal tetap memprioritaskan faktor keselamatan penyeberangan tanpa mengesampingkan kepuasan pengguna jasa yang sedang mengalami situasi darurat akibat karhutla.
Antusiasme warga yang beralih menggunakan jalur laut diperkirakan masih akan terus bertahan selama kondisi cuaca dan kualitas udara di wilayah Kalimantan Tengah belum membaik secara signifikan. Jalur laut diprediksi tetap menjadi tumpuan mobilitas utama masyarakat hingga penerbangan komersial kembali beroperasi normal tanpa bayang-bayang kabut asap.
