Sabtu, 24 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Kalbar Catat Nol Hotspot High Confidence, Ancaman Karhutla Belum Berakhir

✍️ Eka Wulandari 🕒 30 Sep 2026 👁️ 8x dibaca
PADAMKAN API: Petugas pemadam kebakaran memberi hormat kepada bendera Merah Putih di lahan yang telah dipadamkan. Pendinginan dan pengawasan tetap dilakukan untuk mencegah api kembali menyala.
PADAMKAN API: Petugas pemadam kebakaran memberi hormat kepada bendera Merah Putih di lahan yang telah dipadamkan. Pendinginan dan pengawasan tetap dilakukan untuk mencegah api kembali menyala. Foto: istimewa

kalbartimes.com — Kalimantan Barat mencatat nihil hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi selama dua hari berturut-turut, yakni pada Senin (28/9) dan Selasa (29/9). Kondisi ini menjadi perkembangan positif setelah Kalbar mengalami peningkatan titik panas dan kabut asap sepanjang September.

Meski demikian, nihilnya hotspot belum menunjukkan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah sepenuhnya berakhir. Pada malam 28 September, jarak pandang di Bandara Supadio Pontianak masih sekitar 2 kilometer dengan kondisi berasap berdasarkan pantauan BMKG Aviation yang dikutip Kementerian Kehutanan.

Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi udara dan aktivitas kebakaran tidak bisa hanya dilihat dari jumlah hotspot yang terdeteksi satelit.

Hotspot Kalbar Turun Tajam

Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat Kalbar masih memiliki 134 hotspot high confidence pada 9 September. Sehari kemudian jumlahnya turun menjadi 39 titik.

Pada 13 September, hotspot kembali turun menjadi 14 titik setelah sehari sebelumnya tercatat 91 titik.

BMKG juga mencatat Kalbar mengakumulasi 1.357 hotspot high confidence selama periode 10 hari hingga 21 September. Angka tersebut menjadi salah satu konsentrasi hotspot tertinggi di Indonesia pada periode tersebut.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan penurunan secara nasional merupakan perkembangan positif, meski kondisi setiap daerah berbeda.

“Penurunan secara nasional menjadi perkembangan positif, namun dinamika di setiap wilayah berbeda,” kata Ristianto Pribadi.

Secara nasional, data SiPongi hingga Senin (28/9) pukul 21.00 WIB menunjukkan 365 hotspot high confidence, turun dari 559 titik sehari sebelumnya. Dari enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, jumlahnya turun dari 204 menjadi 162 titik.

Nihil Hotspot Bukan Berarti Api Sudah Padam

Kementerian Kehutanan mengingatkan hotspot bukan merupakan jumlah kejadian kebakaran. Data tersebut merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit.

Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik deteksi, sementara area tertentu juga bisa luput dari pemantauan ketika tertutup awan. Karena itu, temuan satelit tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan langsung di lapangan.

Kondisi semakin kompleks apabila kebakaran terjadi di lahan gambut. Api dapat menjalar di bawah permukaan sehingga bara masih berpotensi bertahan meskipun api di permukaan sudah tidak terlihat.

“Api pada lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api di atas permukaan telah terlihat padam. Karena itu, proses pembasahan dan pendinginan harus terus dilakukan hingga lokasi benar-benar aman,” kata Ristianto.

Tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dan dunia usaha tetap melakukan patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan, pembasahan, mopping up, dan pendinginan.

Supadio Masih Berasap

Meskipun hotspot high confidence Kalbar mencapai angka nol, kondisi udara masih perlu diperhatikan.

Pada malam 28 September, jarak pandang di Bandara Supadio Pontianak tercatat sekitar 2 kilometer dengan kondisi berasap. Jarak pandang dapat berubah mengikuti kondisi cuaca dan konsentrasi partikel di udara.

Selain aktivitas karhutla, kondisi meteorologis juga memengaruhi konsentrasi partikel di atmosfer. Karena itu, penurunan hotspot tidak otomatis berarti kualitas udara langsung kembali normal.

Risiko kebakaran kembali muncul juga masih perlu diwaspadai. Kondisi iklim yang kering dapat meningkatkan potensi penyalaan kembali, terutama di wilayah dengan lahan dan vegetasi yang mudah terbakar.

BNPB Masih Tangani Karhutla di Enam Provinsi

Pada saat yang sama, BNPB mencatat masih terdapat 96,07 hektare area karhutla yang belum padam di enam provinsi prioritas hingga 28 September.

Total area terbakar mencapai 527,60 hektare, sementara 431,53 hektare telah ditangani melalui operasi darat dan udara. Dari jumlah tersebut, 369,03 hektare ditangani melalui operasi darat dan 62,50 hektare melalui operasi udara.

Penanganan masih berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Barat.

BNPB juga mengerahkan puluhan armada udara untuk mendukung patroli, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dan water bombing. Namun, operasi udara sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan jarak pandang.

“Water bombing itu sangat tergantung pada visibility atau jarak pandang, sedangkan TMC tergantung visibility juga, keadaan atmosfer, keadaan bibit udara, bibit hujan yang ada di angkasa,” ujar Berton.

Dengan kondisi tersebut, nihil hotspot menjadi perkembangan positif bagi Kalbar, tetapi kewaspadaan masih diperlukan. Patroli, pendinginan, pemantauan udara, serta pencegahan pembakaran lahan tetap menjadi bagian penting untuk mencegah karhutla kembali meluas.

EW
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update