Konverter Amin BenGas Tembus 150 Ribu Unit, Jangkau 34 Provinsi
kalbartimes.com – Inovasi konverter kit (Konkit) Amin Bensin dan Gas (BenGas) yang dikembangkan Amin Suwarno selama 16 tahun diklaim telah mencapai hampir 150 ribu unit dan dimanfaatkan masyarakat di 34 provinsi di Indonesia.
Capaian tersebut menunjukkan perjalanan panjang inovasi yang dikembangkan secara mandiri dari tingkat akar rumput. Pengembangannya kini diarahkan tidak hanya pada efisiensi energi, tetapi juga untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, pertanian, perikanan, hingga ketahanan pangan.
Inovator konverter Amin BenGas, Amin Suwarno, mengatakan keberlanjutan pengembangan selama 16 tahun menjadi pencapaian penting bagi inovasi yang dirintis secara mandiri.
"Capaian ini tentu menjadi bukti bahwa inovasi berbasis akar rumput dapat berkembang dan memberikan manfaat luas apabila didukung pengujian serta pengembangan yang berkelanjutan," kata Amin di Pontianak, Kamis.
Ia menjelaskan, perjalanan pengembangan produk tersebut membutuhkan konsistensi agar inovasi dapat terus berkembang dan digunakan oleh masyarakat.
"Kalau inovasi biasanya satu atau dua tahun sudah berhenti, kita sudah berjalan 16 tahun. Tahun ini sudah menembus hampir 150 ribu unit dan tersebar di 34 provinsi," tuturnya.
Menurut Amin, perkembangan tersebut tidak terlepas dari proses pengujian yang dilakukan melalui berbagai tahapan, mulai dari tingkat daerah hingga pusat. Ia menyebut pengujian dan standardisasi menjadi bagian penting untuk memastikan produk dapat dipertanggungjawabkan sebelum digunakan secara luas.
"Produk kita melewati seleksi yang sangat ketat, mulai dari daerah sampai ke pusat. Ada lembaga-lembaga penguji yang melakukan pengujian terhadap produk kita," katanya.
Selain pengujian, Amin menyebut pihaknya mulai menjalin kemitraan dengan sejumlah perguruan tinggi. Kerja sama tersebut dinilai menjadi bagian dari rekam jejak pengembangan inovasi yang dilakukan selama ini.
"Sekarang kita juga sudah mulai banyak menjadi mitra perguruan tinggi. Ini bagian dari rekam jejak kita sebagai inovator," katanya.
Amin juga menyampaikan bahwa pihaknya telah memiliki tujuh paten yang diklaim telah diakui negara. Menurutnya, kekayaan intelektual tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan teknologi yang dilakukan secara berkelanjutan.
Dari sisi pemanfaatan, Amin melihat efisiensi energi memiliki hubungan erat dengan ketahanan ekonomi masyarakat. Penggunaan energi yang lebih efisien, menurut dia, berpotensi membantu pelaku usaha kecil, petani, dan nelayan mengelola biaya operasional.
"Kalau kita bicara ketahanan energi, sejak awal konverter Amin BenGas memang bagian dari ketahanan energi. Di situ ada ketahanan energi bangsa dan ada ketahanan ekonomi masyarakat kecil yang menggunakan," katanya.
Ia menilai peluang pengembangan dapat diperluas ke sektor pertanian dan perikanan, terutama pada kegiatan produksi yang membutuhkan mesin, pompa air, dan peralatan lainnya.
Pengembangan tersebut juga dikaitkan dengan upaya mendukung ketahanan pangan karena sektor pertanian dan perikanan merupakan bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
"Kalau masuk ke pertanian, kita masuk ke ketahanan pangan. Perikanan juga bagian dari ketahanan pangan. Jadi program ini menyasar banyak segmen, tinggal kita melihat dari sisi mana menilainya," tuturnya.
Selain itu, Amin berharap inovasi tersebut dapat memberikan manfaat bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Efisiensi penggunaan energi dinilai berpotensi menjadi salah satu upaya untuk mendukung kegiatan usaha dan memperkuat ekonomi masyarakat.
Amin menegaskan, pengembangan produk akan terus dilakukan dengan dukungan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, lembaga pengujian, pemerintah, dan media.
“Kalau sebuah produk tidak teruji, tidak mungkin bisa sampai sejauh ini. Artinya, kita sudah teruji oleh waktu, di luar lembaga survei resmi,” katanya.
Ke depan, perluasan sektor pemanfaatan menjadi salah satu arah pengembangan Amin BenGas. Meski demikian, besarnya dampak terhadap penghematan energi dan biaya operasional di setiap sektor masih perlu ditunjukkan melalui data pengujian dan penggunaan yang terukur.
