Sabtu, 24 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Mata Pencaharian Pedagang Pasar Kobar Terancam: Sepi Penjualan Online Ditambah Kabut Asap

✍️ Albertus 🕒 22 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Pasar Indra Sari, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar)
Pasar Indra Sari, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Foto: detik.com

Perekonomian para pedagang pakaian di Pasar Kobar kini berada di titik terendah akibat tekanan ganda yang melanda bisnis tradisional mereka. Belum usai perjuangan mereka bertahan dari gempuran platform belanja online yang menggerus jumlah pengunjung secara drastis, kini ancaman bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin memperburuk situasi. Aktivitas perdagangan di lorong-lorong pasar tradisional tersebut kian lengang karena warga enggan keluar rumah akibat memburuknya kualitas udara.

Penurunan omzet yang tajam membuat para pedagang kesulitan menutupi biaya operasional harian, apalagi untuk mengumpulkan keuntungan. Kombinasi antara pergeseran pola belanja masyarakat ke ranah digital serta kondisi lingkungan yang memburuk membentuk tekanan bertubi-tubi yang dirasakan oleh hampir seluruh pelaku usaha kecil di lorong perbelanjaan tekstil Pasar Kobar.

Persaingan dengan ekosistem digital sejatinya sudah lama membayangi keberlangsungan pasar konvensional. Kehadiran berbagai aplikasi e-commerce dan fitur live shopping dengan penawaran harga yang sangat murah membuat minat pembeli untuk datang langsung ke pasar fisik merosot tajam. Banyak pelanggan langganan yang beralih memesan pakaian secara daring cukup melalui genggaman ponsel mereka.

Namun, situasi dalam beberapa pekan terakhir justru makin memprihatinkan ketika kabut asap tebal akibat karhutla mulai menyelimuti wilayah sekitar. Paparan asap yang pekat tidak hanya mengganggu kesehatan masyarakat, tetapi juga melumpuhkan denyut nadi ekonomi warga setempat. Pilihan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan demi menghindari dampak buruk asap secara langsung memukul para pedagang yang mengandalkan kunjungan tatap muka.

Sepinya lorong-lorong toko kini menjadi pemandangan sehari-hari di Pasar Kobar. Banyak pedagang yang memilih tetap membuka lapak mereka sejak pagi hingga sore hari, meski dari jam ke jam hampir tidak ada satu pun pembeli yang singgah sekadar untuk menanyakan harga.

Penderitaan dan keluh kesah para penjual pakaian di lokasi ini menggambarkan betapa beratnya beban yang harus mereka tanggung saat ini. Kelesuan penjualan akibat persaingan platform digital yang disusul oleh bencana kabut asap diakui langsung oleh para pelaku usaha di lokasi.

Seorang pedagang pakaian yang telah menggantungkan hidupnya di Pasar Kobar mengungkapkan kepasrahannya terhadap kondisi pasar yang kian hari kian sepi:

"Sepi betul sekarang, sejak ada toko-toko online itu orang jarang belanja ke pasar lagi. Ditambah sekarang ada asap begini, tambah tidak ada orang yang keluar rumah belanja."

Kondisi ini menegaskan betapa berantai dampak dari bencana lingkungan terhadap sektor usaha mikro dan kecil. Ketika kualitas udara memburuk, keselamatan dan kesehatan menjadi prioritas utama warga, sehingga aktivitas perbelanjaan barang sekunder seperti pakaian secara otomatis dikesampingkan.

Pedagang lain juga menyampaikan hal senada terkait penurunan pendapatan yang mereka alami secara drastis dalam beberapa waktu terakhir:

"Dulu sebelum marak online dan belum ada asap, masih ada saja pengunjung yang datang tawar-menawar. Sekarang jangankan beli, lalu lalang orang di depan toko saja bisa dihitung jari dalam sehari."

Dua tekanan utama ini, modernisasi digital yang tidak ramah pedagang kecil serta gangguan alam, membuat modal dagang mereka terus tergerus. Pendapatan harian kerap tidak mencukupi bahkan hanya untuk sekadar menutup biaya transportasi atau sewa lapak harian.

Fenomena yang terjadi di Pasar Kobar menjadi cerminan nyata dari rapuhnya posisi pedagang pasar tradisional di tengah arus modernisasi dan perubahan iklim. Di satu sisi, pergeseran tren perilaku konsumen global menuju belanja serba praktis dan serba murah membuat pedagang konvensional tertinggal jika tidak memiliki akses atau keterampilan pemasaran digital yang memadai. Banyak dari pedagang di Pasar Kobar merupakan kalangan generasi tua yang kesulitan melakukan adaptasi ke sistem jualan online.

Di sisi lain, masalah tahunan seperti karhutla menunjukkan betapa rentannya sektor ekonomi informal terhadap bencana ekologis. Kabut asap yang melanda wilayah ini tidak hanya merusak indeks kualitas udara dan memicu gangguan pernapasan (ISPA), tetapi secara sistematis menghentikan perputaran uang di tingkat bawah. Saat imbauan mengurangi aktivitas luar ruangan dikeluarkan demi alasan kesehatan, pasar tradisional menjadi salah satu tempat pertama yang kehilangan pengunjungnya.

Kini para pedagang pakaian di Pasar Kobar hanya bisa berharap ada solusi riil dari pemerintah daerah maupun pihak terkait. Bantuan penanganan bencana karhutla agar asap segera teratasi menjadi harapan jangka pendek utama, agar masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal dan aman di luar rumah.

Selain itu, pendampingan atau intervensi kebijakan terkait penataan pasar digital dan perlindungan pasar tradisional juga sangat dinantikan oleh para pedagang. Tanpa adanya tindakan nyata untuk membantu mereka beradaptasi serta mengatasi dampak bencana alam, keberlangsungan hidup para pedagang pakaian tradisional di Pasar Kobar diprediksi akan semakin terancam dan redup di masa depan.

A
AlbertusEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update