Orang Utan Terancam Asap Kebakaran Hutan, Kemenhut Siapkan Oksigen Hingga Obatan Bius
PALANGKA RAYA — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyiagakan perlengkapan medis hingga obat bius untuk mengantisipasi dampak asap dan kebutuhan evakuasi orang utan. Langkah taktis ini diambil sebagai respons atas meningkatnya ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membahayakan populasi satwa dilindungi di pulau Kalimantan.
Langkah penanganan darurat ini disampaikan langsung usai Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni melakukan peninjauan ke Pusat Rehabilitasi Orang Utan Nyaru Menteng di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh fasilitas pendukung medis dan armada evakuasi berada dalam kondisi siap siaga tinggi di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla.
Persiapan peralatan medis mendesak ini dialokasikan khusus guna merawat satwa-satwa yang menderita gangguan pernapasan serta cedera fisik akibat paparan asap dan paparan api dari karhutla. Selain bantuan pernapasan, kesiapan obat anestesi juga disiagakan apabila sewaktu-waktu tim lapangan harus melakukan tindakan evakuasi memindahkan orang utan dari zona-zona rawan yang terkepung kobaran api.
Saat berada di lokasi rehabilitasi Nyaru Menteng, Menhut memantau secara mendalam penanganan medis beberapa individu satwa yang menjadi korban karhutla. Salah satu kasus yang mendapatkan perhatian khusus adalah kondisi bayi orang utan bernama Novita, yang dievakuasi dari kawasan terbakar dalam keadaan menderita luka di bagian kaki. Satwa muda tersebut kini berada di bawah penanganan tim medis untuk pemulihan kesehatan.
Sebagai langkah jangka pendek dan pencegahan jangka panjang, Kemenhut turut melengkapi fasilitas kesehatan dengan ketersediaan tabung oksigen tambahan serta alat nebulizer guna menangani risiko penyakit saluran pernapasan akut (ISPA) pada orang utan. Fasilitas pendukung pernapasan ini disiagakan agar satwa yang terpapar asap pekat mendapat pertolongan pertama secara optimal.
Di samping penyiapan respons medis, pemerintah secara masif meningkatkan frekuensi patroli keselamatan di kawasan-kawasan lindung. Upaya penyekatan darat dan pemadaman titik api terus diprioritaskan agar kebakaran tidak menembus hingga ke kawasan inti habitat satwa liar.
Operasi pemadaman dan pencegahan penyebaran api di lapangan dilaksanakan melalui koordinasi lintas sektor. Kemenhut bekerja sama erat dengan unsur TNI, Polri, satuan Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah setempat, serta berbagai elemen sukarelawan masyarakat.
Sinergi ketat antarlembaga ini difokuskan untuk memblokir laju kebakaran hutan agar tidak meluas ke pemukiman penduduk maupun menghancurkan ekosistem pendukung keanekaragaman hayati. Menhut menegaskan bahwa penyelamatan satwa liar dari bencana alam seperti karhutla merupakan kewajiban penting, mengingat satwa tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri sendiri atau meminta bantuan saat habitatnya terancam musnah.
Upaya evakuasi dan perlindungan satwa ini terus bergulir di sejumlah wilayah terdampak karhutla Kalimantan. Petugas gabungan dilaporkan terus menyisir area bekas terbakar untuk memastikan tidak ada individu orang utan yang terjebak, terisolasi, atau kelaparan akibat terputusnya rantai makanan di kawasan habitat mereka yang telah hangus.
