SMAN 10 Pontianak Terapkan AI, Kreativitas Siswa Tetap Jadi Perhatian
kalbartimes.com – SMAN 10 Pontianak, Kalimantan Barat, mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan aplikasi digital ke dalam kegiatan pembelajaran. Meski teknologi dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar, sekolah tetap menekankan pentingnya kreativitas, kedisiplinan, dan kemandirian siswa.
Kepala SMAN 10 Pontianak, Sukran, menjelaskan bahwa sekolah mengembangkan tiga aplikasi melalui tim teknologi informasi internal. Ketiganya adalah Abelmas untuk mendukung kegiatan belajar, Ajurdil untuk asesmen, serta Simpul sebagai sistem informasi sekolah bagi orang tua.
Melalui aplikasi tersebut, siswa dapat mengakses materi dan tugas pembelajaran. Sementara itu, orang tua bisa memantau kehadiran serta perkembangan nilai anak.
Sukran mengatakan, penggunaan ponsel tidak dilarang secara menyeluruh karena perangkat tersebut dibutuhkan untuk menunjang pembelajaran. Namun, pemanfaatannya harus tetap terarah agar teknologi tidak menghambat kemampuan siswa untuk berpikir secara mandiri.
“Kami memanfaatkan teknologi secara maksimal, tetapi tetap memproteksi siswa agar tidak kehilangan jati diri dan kreativitasnya,” ujarnya di Pontianak, Senin (19/10/2026).
Dalam penerapannya di kelas, guru Pendidikan Kewarganegaraan, Fita Mulyani, mengatur penggunaan ponsel sesuai kebutuhan pelajaran. Ketika perangkat tidak diperlukan, siswa diminta mengumpulkannya untuk mengurangi gangguan, seperti bermain gim atau membuka pesan.
Sebaliknya, ponsel dapat digunakan ketika siswa membutuhkan informasi untuk mendukung diskusi. Fita juga menanamkan nilai kedisiplinan melalui kebiasaan menjaga kebersihan kelas dan kerapian berpakaian.
Pendekatan berbeda diterapkan dalam layanan bimbingan dan konseling (BK). Guru BK SMAN 10 Pontianak, Maria, menyebut penggunaan AI dalam layanan tersebut masih terbatas karena pendampingan siswa membutuhkan interaksi langsung.
“Pendekatan BK itu lebih bersifat tatap muka dan mengedepankan pendekatan perasaan, hati ke hati,” katanya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas sekaligus guru Bahasa Indonesia, Sri Wahyuni, memanfaatkan sejumlah platform AI, seperti ChatGPT, Gemini, Grok, dan Perplexity, untuk membantu menyiapkan materi pembelajaran.
Meski demikian, hasil yang dihasilkan AI tidak langsung digunakan. Sri terlebih dahulu memeriksa dan menyesuaikannya dengan kebutuhan pembelajaran.
Ia juga berupaya mencegah siswa hanya menyalin jawaban dari AI. Penggunaan ponsel diatur berdasarkan izin guru, sedangkan kemampuan dasar siswa dan hasil tugas tetap menjadi perhatian dalam proses evaluasi.
“AI itu hanya membantu, tapi bukan untuk kalian mencari jawaban,” ujarnya.
Untuk meningkatkan kesiapan tenaga pendidik, sekolah turut mengadakan In House Training dan memfasilitasi Komunitas Belajar bagi guru. Kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus membahas kendala dalam penerapan teknologi di kelas.
Melalui langkah tersebut, SMAN 10 Pontianak berupaya menempatkan AI sebagai alat bantu pendidikan, bukan pengganti proses berpikir, kreativitas, maupun interaksi langsung antara guru dan siswa.
