Siapkan Insinyur dan Penguasaan Teknologi, Prometindo Siap Kawal Hilirisasi Logam Tanah Jarang
KalbarTimes.com — Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia (Prometindo) menegaskan komitmennya untuk mengawal pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ) serta mineral kritis di Tanah Air. Organisasi ini siap mendampingi pemerintah dalam perumusan kebijakan, penguatan teknologi pengolahan, hingga penyiapan SDM insinyur metalurgi yang mampu membawa industri Indonesia mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Komitmen tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum Prometindo terpilih periode 2026–2029, Muhammad Hanafi, dalam Kongres Nasional Prometindo 2026 bertema “Refined Under Pressure: Elevating the Metallurgical Profession for the Next Decade” di Jakarta, Sabtu (12/9/2026). Dalam kongres ini, Helminton juga ditetapkan sebagai Sekretaris Jenderal Prometindo periode 2026–2029.
“Nanti, sebagai akhirnya, kami juga akan tetap membantu pemerintah dalam merumuskan pembicaraan-pembicaraan, terutama sekarang sangat banyak di logam tanah jarang, mineral kritis, dan seterusnya,” ujar Hanafi.
Urgensi Hilirisasi dan Akselerasi Teknologi Pemisahan
Dukungan penuh dari pemerintah disampaikan oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno. Ia menekankan pentingnya peran insinyur metalurgi dalam mewujudkan kemandirian industri nasional.
“Melalui Kongres Nasional 2026 ini, saya berharap Prometindo melahirkan kepemimpinan baru yang visioner serta rekomendasi strategis yang aplikatif bagi negara,” ujar Tri.
Senada dengan hal itu, praktisi pertambangan Achmad Ardianto menyoroti bahwa besarnya potensi bahan baku belum cukup jika tidak diimbangi oleh penguasaan teknologi pemisahan tingkat tinggi. Proses pemisahan 17 unsur LTJ membutuhkan kompleksitas ekstraksi pelarut hingga puluhan bahkan ratusan tahap karena sifat kimianya yang saling berdekatan.
“Pengembangan potensi logam tanah jarang di Indonesia harus diiringi dengan teknologi terkini,” kata Achmad dalam forum MetConnex 2026.
Potensi Sumber Daya LTJ dan Mineral Ikutan di Indonesia
Data terbaru dari Badan Geologi menunjukkan Indonesia memiliki sumber daya bijih LTJ mencapai 136,21 juta ton, dengan kandungan logam sekitar 118.650 ton yang tersebar di beberapa wilayah:
-
Sulawesi Barat: Sumber daya bijih 67,58 juta ton (kandungan logam 85.441 ton).
-
Kepulauan Bangka Belitung: Sumber daya bijih 67,13 juta ton (kandungan logam 33.206 ton).
-
Sumatera Utara: Sumber daya bijih 1.502 ton (kandungan logam 2,39 ton).
BACA JUGA- Ketat Tata Kelola Agraria, RUU Baru Atur Penyitaan Lahan Telantar dan Tempatkan Gubernur Sebagai Kepala BRAN Daerah
- Usut 3,6 Ribu Hektare Lahan Terbakar, Kemenhut Proses 31 Kasus Karhutla dan Ancam Bekukan Izin PBPH
- Sebelum Tayang di Indonesia, Film Laut Bercerita Siap Tayang Perdana dan Berkompetisi di BIFF 2026
Kendati demikian, Badan Geologi mencatat seluruh potensi tersebut masih berstatus sumber daya dan belum dinilai sebagai cadangan layak tambang.
Selain endapan utama, LTJ juga tersimpan sebagai mineral ikutan pada sisa pengolahan tambang timah (seperti monasit dan xenotim di Kepulauan Bangka Belitung), serta pada endapan laterit pertambangan bauksit dan nikel (di Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Sulawesi, hingga Maluku Utara). Pengelolaannya membutuhkan penanganan ekstra karena mengandung unsur radioaktif seperti torium dan uranium.
-
Sumber daya konsentrat monasit tercatat 6,93 miliar meter kubik dengan kandungan mineral 186.663 ton pada 48 lokasi.
-
Sumber daya konsentrat xenotim tercatat 6,47 miliar meter kubik dengan kandungan mineral 20.734 ton pada 5 lokasi.
Peningkatan Kompetensi Insinyur dan Akses Kerja Lulusan Baru
Untuk menjawab tantangan pengolahan mineral yang makin rumit, Hanafi menekankan pentingnya membekali insinyur metalurgi dengan kemampuan teknis sekaligus manajerial agar mampu menduduki posisi strategis di industri.
“Kompetensi para insinyur metalurgi bagaimana mencapai tidak hanya kompetensi teknis, tetapi sampai kompetensi untuk memegang top management di suatu industri,” jelas Hanafi.
Prometindo juga akan memperkuat sinergi antara kampus dan industri untuk memastikan keselarasan keahlian lulusan, sejalan dengan arahan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto. Selain itu, pembukaan lapangan kerja bagi para lulusan baru (fresh graduate) menjadi fokus prioritas.
“Prometindo harus muncul kembali. Kongres ini adalah momentumnya untuk kami lebih berkiprah kepada kemajuan industri, khususnya industri metalurgi,” katanya.
Hanafi menambahkan mengenai komitmen terhadap lulusan muda:
“Kami akan berupaya bagaimana membuka lapangan kerja dan mendukung supaya lapangan kerja tersebut bisa dirasakan oleh para insinyur yang baru lulus,” kata Hanafi.
