Rabu, 04 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Nilai Tukar Petani Kalimantan Barat Turun 1,10 Persen: Sektor Perkebunan Rakyat dan Sawit Jadi Sorotan Utama

✍️ Albertus 🕒 04 Nov 2026 👁️ 1x dibaca
Muhammad Saichudin, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat.
Muhammad Saichudin, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat. Foto: pontianakpost.jawapos.com

Kondisi kesejahteraan petani di Provinsi Kalimantan Barat mengalami tekanan lanjutan pada pertengahan periode akhir tahun. Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Petani (NTP) di wilayah regional tersebut terpantau melemah sebesar 1,10 persen pada bulan Oktober 2026. Angka indeks yang sebelumnya berada di posisi 177,68 poin pada September 2026, menyusut turun hingga menyentuh level 175,73 poin.

Penyusutan indikator kesejahteraan ini utamanya digerakkan oleh pelemahan harga komoditas andalan perkebunan rakyat, di mana kelapa sawit memegang porsi kontribusi negatif terbesar terhadap penurunan angka secara keseluruhan. Tekanan ini tidak hanya berdampak pada berkurangnya daya tukar hasil panen petani terhadap barang maupun jasa yang harus mereka konsumsi, tetapi juga mencerminkan adanya disekuilibrium antara harga penerimaan dari komoditas agraris dengan pembengkakan biaya kebutuhan pokok di tingkat perdesaan.

Menelisik lebih dalam rincian data sektoral yang dipaparkan oleh pihak BPS, pelemahan NTP secara umum ini tidak merata di seluruh bidang garapan, melainkan terkonsentrasi pada tiga dari lima subsektor pertanian utama yang ada. Subsektor tanaman perkebunan rakyat tercatat mengalami koreksi paling tajam hingga mencapai angka 1,44 persen. Menyusul di belakangnya, subsektor perikanan turut mengalami kontraksi sebesar 0,20 persen, serta subsektor tanaman pangan yang melemah tipis di angka 0,14 persen.

Faktor penekan di subsektor perkebunan rakyat ini utamanya disumbangkan oleh dinamika harga komoditas kelapa sawit di pasaran yang kurang menguntungkan bagi para pekebun lokal. Selain faktor penurunan harga jual hasil bumi, beban ekonomi petani turut diperberat oleh kenaikan biaya pengeluaran. BPS mencatat adanya lonjakan pada indeks harga yang harus dibayar oleh petani sebesar 0,25 persen. Kondisi ini mengindikasikan adanya tekanan ganda, di mana pendapatan dari hasil penjualan panen merosot sementara harga barang-barang kebutuhan sehari-hari justru merangkak naik.

Kendati mayoritas subsektor mengalami tren pelemahan, dinamika yang cukup kontras justru terjadi pada sektor hortikultura. Berdasarkan laporan statistik bulanan tersebut, NTP subsektor hortikultura justru menunjukkan performa gemilang dengan melompat dari posisi 108,21 poin ke level 111,81 poin, atau mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,33 persen. Lonjakan signifikan ini berhasil didorong oleh naiknya indeks harga yang diterima oleh petani hortikultura hingga menyentuh angka 3,62 persen.

Kelompok komoditas sayur-sayuran tercatat sebagai motor penggerak utama di balik kebangkitan subsektor hortikultura dengan persentase kenaikan tertinggi mencapai 10 persen. Beberapa jenis komoditas holtikultura yang tampil impresif dan menjadi penyumbang terbesar kenaikan tersebut meliputi cabai rawit, cabai merah, kacang panjang, serta cabai hijau. Meskipun demikian, pertumbuhan positif pada sektor hortikultura belum mampu mendongkrak total akumulasi NTP secara keseluruhan akibat dominasi bobot sektor perkebunan rakyat yang jauh lebih besar di wilayah Kalimantan Barat.

Di samping menyoroti fluktuasi nilai tukar petani, lembaga statistik turut memonitor pergerakan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) yang merefleksikan tingkat inflasi di tingkat perdesaan. Tercatat bahwa IKRT Kalimantan Barat pada Oktober 2026 mengalami kenaikan sebesar 0,29 persen, bergerak naik dari pos 131,14 poin menjadi 131,52 poin. Peningkatan pengeluaran rumah tangga ini terjadi secara merata pada delapan dari total sebelas kelompok pengeluaran yang diamati.

Kenaikan biaya konsumsi rumah tangga ini dipicu oleh tren kenaikan harga pada berbagai komoditas kebutuhan harian masyarakat. Khusus pada subsektor tertentu yang turut mengalami kenaikan indeks harga dibayar hingga mencapai 0,38 persen, tekanan terhadap daya beli keluarga petani menjadi semakin terasa nyata. Kondisi makroekonomi perdesaan ini menuntut adanya perhatian serta intervensi kebijakan strategis dari berbagai pemangku kepentingan terkait.

Stabilisasi harga komoditas unggulan seperti kelapa sawit menjadi pekerjaan rumah yang mendesak guna mengembalikan kesejahteraan petani rakyat di Bumi Borneo. Tanpa adanya intervensi harga yang memadai atau upaya pengendalian inflasi barang konsumsi, tren penurunan NTP dikhawatirkan dapat berdampak panjang terhadap stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat perdesaan di Kalimantan Barat pada periode-periode selanjutnya.

A
AlbertusEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update