Sabtu, 07 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

IGD RSUD Soedarso Terima 100 Pasien per Hari, Kapasitas Hanya 25 Tempat Tidur

✍️ Eka Wulandari 🕒 07 Nov 2026 👁️ 0x dibaca
Direktur RSUD Soedarso, Hary Agung Tjahyadi.
Direktur RSUD Soedarso, Hary Agung Tjahyadi. Foto: istimewa

kalbartimes.com – Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Soedarso Pontianak menghadapi tekanan pelayanan akibat tingginya jumlah pasien yang datang setiap hari. Dengan kapasitas sekitar 25 tempat tidur, rumah sakit rujukan utama Kalimantan Barat itu menerima rata-rata 80 hingga 100 pasien melalui IGD.

Kondisi tersebut menyebabkan kepadatan hingga melebihi kapasitas pelayanan. Akibatnya, waktu tunggu pasien berpotensi melampaui target standar pelayanan kegawatdaruratan.

Direktur RSUD Soedarso, Hary Agung Tjahyadi, mengatakan persoalan kepadatan IGD dan lamanya waktu tunggu menjadi salah satu keluhan masyarakat yang disampaikan dalam forum komunikasi publik.

“Secara kapasitas memang tempat tidur di IGD Soedarso ini sekitar 25 tempat tidur. Namun, rata-rata dalam satu hari sekitar 80 sampai 100 pasien masuk melalui IGD. Sehingga tingkat kepadatannya sangat tinggi atau overcapacity, yang menyebabkan waktu tunggunya melebihi target yang sudah ditentukan dalam layanan kegawatdaruratan,” ujarnya.

Menurut Hary, salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah menambah kapasitas tempat tidur rawat inap. Dengan ketersediaan ruang perawatan yang memadai, pasien yang sudah mendapat penanganan di IGD dapat lebih cepat dipindahkan ke ruang rawat inap sesuai kebutuhan medis.

Selain penambahan kapasitas, pembenahan sistem rujukan berjenjang juga dinilai penting untuk mengurangi beban pelayanan di rumah sakit tersebut.

Hary mengungkapkan, hampir 50 persen pasien yang datang ke IGD RSUD Soedarso memiliki tingkat keparahan penyakit atau severity level yang dinilai masih memungkinkan ditangani rumah sakit tipe C.

Padahal, sebagai rumah sakit kelas A, RSUD Soedarso diharapkan dapat memprioritaskan penanganan pasien dengan tingkat keparahan yang membutuhkan layanan lebih kompleks.

“Sekarang ini masih berebut antara level 2, dan 3 dengan level 1, yang seharusnya bisa dilayani di rumah sakit jejaring kita. Ini perlu perbaikan tata kelola rujukan,” jelasnya.

Ia menilai masyarakat perlu mendapatkan pemahaman mengenai fungsi fasilitas kesehatan berdasarkan kemampuan pelayanannya. Pasien yang kondisinya memungkinkan ditangani rumah sakit jejaring dapat memperoleh layanan di fasilitas terdekat sesuai kebutuhan medis dan ketentuan rujukan.

“Informasi ini juga perlu disampaikan kepada masyarakat, bahwa untuk penyakit-penyakit yang masih memungkinkan dilayani di rumah sakit tipe C, sebaiknya mencari pelayanan yang terdekat,” katanya.

Hary menambahkan, pemerataan layanan kesehatan harus didukung peningkatan kapasitas rumah sakit kabupaten dan kota. Penguatan fasilitas, ketersediaan tempat tidur, serta mutu pelayanan rumah sakit daerah diperlukan agar beban rujukan tidak hanya terpusat di RSUD Soedarso.

Besarnya kebutuhan layanan kesehatan di rumah sakit tersebut juga terlihat dari perkembangan jumlah kunjungan pasien selama enam tahun terakhir.

Berdasarkan data RSUD Soedarso, total kunjungan pasien pada 2020 tercatat sebanyak 117.638 kunjungan. Jumlah itu sempat turun menjadi 93.706 pada 2021, sebelum meningkat menjadi 142.744 pada 2022.

Kenaikan berlanjut pada 2023 dengan 196.069 kunjungan dan mencapai 222.603 pada 2024. Pada 2025, jumlahnya kembali bertambah menjadi 277.456 kunjungan. Dengan demikian, volume kunjungan meningkat sekitar 136 persen dibandingkan 2020.

Khusus pelayanan IGD, jumlah kunjungan juga menunjukkan tren peningkatan. Pada 2020 tercatat 11.846 kunjungan, kemudian 11.055 pada 2021. Angka tersebut naik menjadi 15.443 pada 2022, 28.512 pada 2023, dan 31.009 pada 2024.

Memasuki 2025, kunjungan IGD mencapai 32.046 pasien.

Sementara itu, layanan rawat jalan menjadi penyumbang terbesar jumlah kunjungan. Pada 2025, pelayanan rawat jalan mencatat 205.754 kunjungan, meningkat dari 162.017 pada 2024.

Adapun kunjungan rawat inap pada 2025 mencapai 39.656, dibandingkan 29.577 pada tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut menjadi tantangan bagi RSUD Soedarso dalam menjaga mutu dan kecepatan pelayanan. Penambahan kapasitas rumah sakit serta pembenahan sistem rujukan diharapkan dapat mendukung pemerataan layanan kesehatan bagi masyarakat Kalimantan Barat.

EW
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update