Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Memanfaatkan Wilayah Perbatasan, Potensi Perikanan dan Ubur-Ubur Temajuk Sambas Didorong Tembus Pasar Malaysia

✍️ Eka Wulandari 🕒 16 Sep 2026 👁️ 21x dibaca
Memanfaatkan Wilayah Perbatasan, Potensi Perikanan dan Ubur-Ubur Temajuk Sambas Didorong Tembus Pasar Malaysia
Memanfaatkan Wilayah Perbatasan, Potensi Perikanan dan Ubur-Ubur Temajuk Sambas Didorong Tembus Pasar Malaysia Foto: Istimewa

KalbarTimes — Potensi hasil laut di kawasan pesisir Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, terus dipacu untuk memperluas jangkauan pasar internasional, khususnya ke Sarawak, Malaysia. Posisi strategis kawasan ini yang berhadapan langsung dengan Laut Natuna menjadi modal utama akselerasi perdagangan komoditas perikanan.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) Kabupaten Sambas Hendy Wijaya menjelaskan bahwa bentang pantai Sambas memberikan peluang besar bagi aktivitas penangkapan dan niaga hasil laut.

"Sambas memiliki garis pantai sekitar 198,76 km dan berbatasan dengan Laut Natuna serta wilayah Sarawak, Malaysia. Kondisi ini menjadikan wilayah pesisirnya strategis untuk penangkapan ikan dan perdagangan hasil laut," kata Hendy Wijaya, Rabu (16/9/2026).

Komoditas Bernilai Ekonomi Tinggi dan Produksi Melimpah

Produksi perikanan tangkap yang terdata melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pemangkat secara konsisten melampaui 11.000 ton per tahun. Komoditas yang melimpah mencakup pelagis besar (tongkol dan tenggiri) hingga pelagis kecil serta demersal (kembang, bawal, kakap merah, dan kerapu).

Selain ikan tangkap, perairan Temajuk memiliki komoditas bernilai ekonomi tinggi yang diproduksi secara berkala:

  • Ubur-Ubur: Melimpah pada periode Maret hingga Mei, di mana satu pengumpul mampu memproduksi 40–60 ton per musim dengan omzet mencapai Rp600 juta hingga Rp700 juta.

  • Lobster & Keanekaragaman Laut: Jenis lobster pasir, pakistan, mutiara, dan batu, hingga kepah, tengkuyung, kepiting, remis laut, serta gurita.

"Hasil ubur-ubur selain dipasarkan ke Pulau Jawa, juga dikirim ke Malaysia dan Taiwan dengan harga jual sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram," katanya.

Hasil tangkapan nelayan disalurkan ke pengepul lokal di Liku dan Tanah Hitam untuk kebutuhan pasar Paloh, sementara komoditas bernilai tinggi dikirim hingga Pemangkat, Singkawang, dan Pontianak.

Peluang Pembukaan Perlintasan Temajuk-Telok Melano

Hendy menilai pembukaan kembali perlintasan batas Temajuk-Telok Melano bakal mempersingkat alur distribusi serta mempermudah pengurusan perizinan niaga lintas batas.

"Pembukaan perlintasan sangat berpotensi mendatangkan investor dalam negeri maupun luar negeri, mengingat potensi perikanan dan produk olahan ikan di Temajuk sangat menjanjikan," katanya.

Untuk mendukung peluang tersebut, pemerintah daerah memfokuskan peningkatan kapasitas SDM nelayan melalui pelatihan perdagangan perikanan lintas batas serta pengolahan dan pemasaran hasil laut.

Keterbatasan Akses BBM dan Pabrik Es

Di sisi lain, sektor perikanan Temajuk masih menghadapi tantangan infrastruktur pendukung. Nelayan setempat belum memiliki SPBU khusus nelayan sehingga masih bergantung pada fasilitas SPBU di Tanah Hitam.

Selain itu, ketiadaan pabrik es di kawasan Temajuk memaksa nelayan mengandalkan es rumah tangga atau membawa pasokan es dalam jumlah besar dari Tanah Hitam demi menjaga mutu dan kesegaran ikan hasil tangkapan.

Meta Deskripsi

 

Tagging / Kata Kunci

 

EW
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update