Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Teknologi
Teknologi

BRIN Ubah Sampah dan Limbah Jadi Bahan Bakar, Konsumsi Batu Bara Bisa Turun 10 Persen

✍️ Eka Wulandari 🕒 28 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Anggoro Tri Mursito, saat paparan di Jakarta, Senin 26 Oktober 2026.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Anggoro Tri Mursito, saat paparan di Jakarta, Senin 26 Oktober 2026. Foto: istimewa

kalbartimes.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi Biomass Coal Fuel (BCF) yang mengolah sampah perkotaan, limbah industri, dan sisa pembakaran batu bara menjadi bahan bakar alternatif. Teknologi ini berpotensi menekan konsumsi batu bara sekaligus meningkatkan pemanfaatan limbah untuk mendukung efisiensi energi industri.

Teknologi yang dikembangkan melalui riset sejak 2015 tersebut mulai memasuki tahap komersialisasi pada 2022. Dalam penerapannya, BCF digunakan sebagai substitusi sebagian batu bara pada peralatan industri, seperti boiler dan gasifier.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Anggoro Tri Mursito, memaparkan perkembangan teknologi tersebut dalam kegiatan verifikasi lapangan calon penerima tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya BRIN 2026 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Menurut Anggoro, pengembangan BCF berawal dari penelitian penanganan limbah pertambangan batu bara pada 2015. Setahun kemudian, riset diarahkan pada pemanfaatan batu bara berperingkat rendah, sebelum berlanjut ke pengembangan formulasi dan pengujian bahan bakar alternatif.

Pada 2018, tim mulai memasukkan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dalam formulasi. Pengembangan berikutnya mencakup pengujian skala laboratorium dan percontohan, pembuatan prototipe, hingga penyesuaian karakteristik bahan bakar dengan kebutuhan peralatan industri.

Tahap persiapan produksi dilakukan pada 2020, dilanjutkan penjaminan produksi pada 2021. BCF kemudian memasuki tahap komersialisasi pada 2022 dan dilisensikan untuk pemanfaatan industri.

“Jadi cukup panjang riset kami dari mulai awal sampai akhir dan sampai sekarang ini sudah tahun kelima dilisensi teknologi ini,” kata Anggoro, dikutip dari laman BRIN, Selasa (27/10/2026).

Sampah Kota Diolah Menjadi Energi Alternatif

BCF dikembangkan untuk memanfaatkan berbagai material yang selama ini belum digunakan secara optimal. Bahan bakunya mencakup biomassa dari sampah kota dan taman, bio-sludge atau lumpur biologis dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL), serta unburnt coal atau sisa batu bara yang belum terbakar sempurna.

Material tersebut diolah dan diformulasikan untuk menghasilkan bahan bakar alternatif yang dapat menggantikan sebagian kebutuhan batu bara di industri.

Dalam proses produksinya, sampah terlebih dahulu dipilah agar material yang masih bisa didaur ulang tidak tercampur dengan bahan yang akan diolah. Biomassa terpilih kemudian menjalani fermentasi menggunakan bakteri selama sekitar tiga hingga lima hari, sebelum dicacah dan dikeringkan.

Setelah itu, biomassa dicampurkan dengan sisa batu bara dan bio-sludge menggunakan komposisi tertentu. BRIN juga mengembangkan bakteri yang berfungsi membantu mengurangi kandungan sulfur dan mendukung pengeringan material.

“Bakteri ini adalah bakteri pendesulfurisasi atau pengurang sulfur dan juga pengering,” terang Anggoro.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi tersebut tidak terbatas pada sampah perkotaan. BCF juga berpotensi digunakan untuk mengolah batu bara berkadar sulfur tinggi dan material basah yang menimbulkan bau.

Anggoro menjelaskan, teknologi ini diharapkan dapat mengubah material yang sebelumnya menjadi beban pengelolaan limbah menjadi sumber energi dengan nilai ekonomi.

“Jadi, ini semua harapannya menjadi bahan bakar, menjadi energi, sehingga ini biayanya dapat tereduksi atau berkurang, menjadi bahan bakar alternatif. Dan harapannya ke depan ini menjadi manufaktur yang hijau,” jelasnya.

Dikembangkan dalam Bentuk Briket dan Pelet

BCF diproduksi dalam beberapa bentuk, di antaranya briket dan pelet. Berdasarkan pemaparan Anggoro, produk tersebut memiliki nilai kalor di atas 3.000 kilokalori dan kandungan sulfur kurang dari 1 persen.

Penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri, baik dengan memasukkan BCF sebagai bahan bakar berbentuk briket maupun mencampurkannya secara langsung dengan batu bara.

Teknologi ini telah diterapkan di sejumlah wilayah, termasuk Bandung Raya, Serang, dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Kapasitas pengolahan di Bandung Raya dan Serang dilaporkan mencapai sekitar 10–15 ton per hari. Sementara itu, fasilitas di Pangkep memiliki kapasitas sekitar 50–60 ton per hari.

Di Pangkep, BCF dimanfaatkan oleh PT Semen Tonasa sebagai bahan bakar pada kalsiner. Teknologi serupa juga digunakan oleh sejumlah industri lain sebagai bagian dari upaya mengurangi pemakaian batu bara dan meningkatkan efisiensi energi.

Konsumsi Batu Bara Diklaim Turun 10 Persen

Berdasarkan data yang dipaparkan BRIN, penerapan BCF dilaporkan mampu menurunkan konsumsi batu bara rata-rata 10 persen. Teknologi ini juga diklaim dapat mengurangi emisi sulfur oksida (SOx) dan nitrogen oksida (NOx) sekitar 5 persen, serta meningkatkan efisiensi termal hingga 10 persen.

Selama sekitar lima tahun pemanfaatannya, teknologi tersebut dilaporkan telah mengolah lebih dari 2.000 ton sampah kota dan taman serta 460 ton bio-sludge.

Manfaat ekonomi juga dilaporkan oleh salah satu industri pengguna. Penghematan biaya disebut dapat mencapai Rp400 juta per bulan untuk satu boiler, melalui pemanfaatan produk samping dan BCF dalam mendukung efisiensi energi.

Pengembangan BCF menjadi salah satu upaya pemanfaatan hasil riset untuk kebutuhan industri. Namun, penerapan lebih luas tetap membutuhkan penyesuaian dengan karakteristik bahan baku, standar mutu bahan bakar, serta spesifikasi peralatan di masing-masing fasilitas.

Melalui teknologi ini, BRIN mendorong pemanfaatan limbah sebagai sumber energi alternatif yang berpotensi membantu menekan biaya operasional industri sekaligus mengurangi jumlah material yang harus ditangani sebagai limbah.

EW
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update